Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Fakultas Psikologi kembali menegaskan komitmennya terhadap pengembangan kesehatan mental yang berbasis pada nilai-nilai keislaman. Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan bertajuk “Short Version Training of BA-M” pada hari Selasa (31/3), bertempat di Ruang Seminar BPH, Lantai 6 Gedung Induk Siti Walidah UMS.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Seminar on Religion and Mental Health: Training on Culturally Adapted Behavioral Activation for Muslim Population (BA-M). Acara ini terselenggara berkat kerja sama antara UMS dan University of Leeds, Inggris, dengan menghadirkan pendekatan psikoterapi berbasis bukti medis yang telah disesuaikan secara khusus untuk masyarakat muslim. Serta mengundang pakar dari BA-M dari University of Leeds yaitu Prof. Dr. Ghazala Mir, dalam training ini
Langkah Strategis Adaptasi Budaya
Ketua tim peneliti, Lusi Nuryanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog, menyampaikan bahwa adaptasi buku panduan (manual) terapi Behavioral Activation for Muslim (BA-M) merupakan sebuah langkah strategis. Tujuannya adalah menjawab kebutuhan penanganan kesehatan mental yang sesuai dengan budaya dan nilai spiritual masyarakat Indonesia.
“Manual BA-M pada awalnya disusun oleh tim peneliti dari University of Leeds sebagai terapi berbasis bukti untuk membantu klien yang mengalami depresi. Namun, melihat tingginya angka depresi serta masih terbatasnya layanan kesehatan mental yang peka terhadap budaya di Indonesia, proses adaptasi sangat diperlukan agar terapi ini lebih mudah diterima dan lebih efektif diterapkan di kalangan masyarakat muslim,” papar Lusi.
Lebih lanjut, Lusi menjelaskan bahwa proses penyesuaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan tiga aspek utama: bahasa, budaya, dan praktik keagamaan. Melalui penyesuaian ini, diharapkan klien dapat lebih terbuka dalam menerima terapi, sekaligus memperkuat efektivitas penanganan psikologis yang diberikan.
Kolaborasi Lintas Disiplin dan Dukungan Kampus
Pengembangan BA-M sangat sejalan dengan misi Fakultas Psikologi UMS, yakni mengembangkan ilmu psikologi yang berakar pada nilai-nilai keislaman serta kearifan lokal, demi memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
“Dalam pelaksanaannya, pengembangan manual ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu dan internasional. Kami melibatkan para peneliti, penerjemah, pengkaji (reviewer), hingga asisten penelitian,” ujarnya.
Selain itu, keterlibatan langsung dari para pengguna layanan, terapis, dan mentor selama tahap uji coba juga menjadi kunci penting untuk memastikan kualitas serta kesesuaian panduan yang dihasilkan.
Penelitian dan pengembangan manual BA-M ini mendapatkan dukungan penuh dari UMS melalui Program Riset Kolaborasi Internasional (RKI). Hal ini menjadi wujud nyata komitmen institusi dalam mendorong riset kerja sama yang memberikan dampak positif, baik di tingkat lokal maupun global.
Fokus Terapi dan Tantangan di Lapangan
Dalam pemaparan materi pelatihan, dijelaskan bahwa Behavioral Activation (BA) atau aktivasi perilaku adalah metode terapi yang berfokus pada:
- Penjadwalan aktivitas yang bermakna bagi klien.
- Pemecahan masalah (problem-solving).
- Pengurangan perilaku menghindar dan penekanan pikiran negatif.
“Pendekatan ini telah terbukti secara ilmiah memiliki tingkat keefektifan yang setara dengan Cognitive Behavioural Therapy (CBT) dalam menangani masalah depresi,” ungkap Lusi.
Keunggulan lain dari pendekatan BA-M adalah adanya penyatuan (integrasi) aspek penyelesaian masalah dengan pendekatan agama (religious coping), baik dalam bentuk positif maupun negatif, yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat muslim sehari-hari. Penyatuan ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan mental serta membantu individu dalam menghadapi tekanan hidup dengan cara yang lebih mudah beradaptasi (adaptif).
Meski demikian, pelatihan ini juga mengupas berbagai tantangan nyata saat terapi diterapkan di lapangan. Beberapa kendala yang sering ditemui antara lain rendahnya komitmen klien, adanya ketergantungan pada obat-obatan, serta ketidakkonsistenan dalam mengikuti sesi terapi.
“Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat dan cermat dari para terapis untuk memastikan proses intervensi berjalan dengan berhasil,” pungkasnya.









