Tegaskan Komitmen Kampus Inklusif, UMS Berikan Beasiswa S2 Penuh bagi Lulusan Difabel Alumni Psikologi UMS

Surakarta, 29 April 2026 – Pendidikan tinggi adalah hak segala bangsa, tak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Mengukuhkan komitmennya sebagai kampus yang ramah dan inklusif, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi memberikan beasiswa magister (S2) 100 persen kepada Muhammad Arief Raharjo, S.Psi., seorang lulusan difabel dari Fakultas Psikologi. Anugerah ini tertuang secara sah melalui Surat Keputusan Rektor No.: 42/KEP-R/2026.

Kabar gembira ini sejatinya telah diberitahukan langsung oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., pada momen puncak Upacara Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor Periode I Tahun Akademik 2025/2026 di Gedung Edutorium UMS, Sabtu (20/9) lalu.

Penyerahan SK Penerima Beasiswa S2 oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., kepada Muhammad Arief Raharjo, S.Psi

“Setelah saya rapat sebentar dengan Wakil Rektor bidang keuangan, akademik, dan lain-lain, pada prinsipnya kami setuju memberikan beasiswa 100 persen bagi Mas Arief sesuai permohonan yang telah disampaikan. Mudah-mudahan bisa lulus tepat waktu,” tutur Prof. Harun di hadapan ribuan wisudawan dan wali yang hadir.

Bagi Arief, beasiswa penuh ini bukan sekadar bantuan finansial semata, melainkan sebuah amanah moral yang menuntut tanggung jawab besar. Ia bertekad membuktikan kemampuannya dalam menyelesaikan studi magister dengan gemilang.

“Ada tanggung jawab untuk tidak malas. Ini bukan hanya soal melanjutkan studi, melainkan bagaimana saya kelak bisa memberikan kontribusi nyata,” ungkap Arief mantap saat dimintai keterangan, Selasa (3/3).

Visi Akademik dan Tantangan Kurikulum Inklusif

Di jenjang strata dua nanti, Arief berencana mendalami Psikologi Pendidikan dengan fokus riset pada isu Inklusivitas. Ia menaruh perhatian besar pada fenomena pendidikan anak-anak penyandang disabilitas, khususnya dari Generasi Z dan Generasi Alpha. Menurutnya, dinamika kepribadian lintas generasi tersebut menuntut pendekatan pola pembelajaran yang lebih mutakhir.

Sebagai individu yang langsung merasakan dinamika sistem pendidikan inklusif, Arief memberikan catatan kritis. Ia menilai masih kerap terjadi tumpang tindih antara kurikulum reguler dan kurikulum inklusif. Standar penilaian praktikum, misalnya, acap kali disamaratakan dengan mahasiswa reguler. Selain itu, pendekatan pengajaran yang terlalu berpusat pada teks—termasuk dari sebagian asisten dosen—masih menjadi rintangan tersendiri bagi mahasiswa berkebutuhan khusus.

Kendati demikian, Arief amat bersyukur atas lingkungan akademiknya.

“Alhamdulillah, dosen-dosen sangat membantu. Teman-teman juga banyak yang memberikan dukungan, meskipun tentu ada beberapa pihak yang mungkin belum sepenuhnya memahami kondisi kami,” tambahnya.

Ke depan, riset Arief akan difokuskan pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan harapan dapat menelurkan rekomendasi konkret bagi penyempurnaan kurikulum yang lebih adaptif bagi siswa disabilitas.

Terkait arah karier, Arief mengaku sempat mempertimbangkan Magister Psikologi Profesi. Namun, setelah menimbang realitas pekerjaan klinis di rumah sakit yang menuntut mobilitas dan kecepatan respons fisik setiap saat, ia memilih jalan yang lebih bijak.

“Kriteria di rumah sakit itu menuntut kita harus cepat dan konsisten kapan pun dipanggil. Dengan kondisi fisik saya yang masih memiliki keterbatasan, itu cukup menantang. Jadi, saya merasa lebih nyaman dan optimal jika berkarier sebagai akademisi,” paparnya.

Keputusan Arief untuk melanjutkan studi di almamaternya pun didasari oleh lingkungan UMS yang telah terbukti ramah dan menerimanya dengan tangan terbuka, sebuah zona nyaman yang suportif untuk pertumbuhannya.

Wujud Nyata Kampus Inklusi Berkelas Dunia

Secara terpisah, Rektor UMS menegaskan bahwa beasiswa untuk Arief adalah manifestasi visi UMS sebagai universitas Islam berkelas dunia yang membumi dan inklusif. UMS membuka pintu selebar-lebarnya bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa adanya sekat latar belakang ekonomi, agama, maupun kondisi fisik.

“UMS harus mampu menebarkan kebaikan dan kemanfaatan untuk umat dan masyarakat luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di kancah global,” tegas Prof. Harun.

Sebagai informasi, UMS secara konsisten mengalokasikan dana sekitar Rp44 miliar setiap tahunnya untuk berbagai program beasiswa, di mana Arief menjadi salah satu penerima manfaatnya.

“Melalui langkah ini, kita ingin menumbuhkan kepercayaan diri Mas Arief, memberikan motivasi agar ia menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh mengarungi kehidupan,” ujar Harun.

Lebih jauh, Prof. Harun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memberikan dukungan dan apresiasi kepada penyandang disabilitas, sebagai upaya kolektif membangun peradaban yang adil dan beradab.

“Ini adalah bukti konkret bahwa UMS benar-benar telah menjelma menjadi kampus inklusi untuk umat dan seluruh lapisan masyarakat luas,” pungkasnya.

Scroll to Top