Surakarta, 25 April, 2026 –Dalam upaya mencetak psikolog profesional yang kompeten dan adaptif, penyusunan pedoman pembelajaran yang tepat sasaran menjadi sebuah keharusan. Merespons kebutuhan tersebut, diselenggarakanlah “Pelatihan Penyusunan Modul Asesmen dan Intervensi Psikologi” yang menargetkan pembaruan kurikulum agar lebih aplikatif dan berbasis pada kasus nyata.
Acara yang dipandu oleh Rahma Ayuningtyas, M.Psi., Psikolog selaku Master of Ceremony (MC) ini, dibuka dengan paparan strategis dari Ketua Program Studi Profesi, Susatyo Yuwono, M.Si., Psikolog. Dalam sambutannya, Susatyo menyoroti tantangan klasik dalam pendidikan psikologi yang harus segera diurai.
“Selama ini, kita kerap menemukan permasalahan di mana modul pembelajaran profesi masih cenderung teoritis dan minim panduan operasional. Akibatnya, mahasiswa sering kali mengalami theory-practice gap, sebuah kondisi di mana mereka kesulitan menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan praktik nyata di lapangan,” tegas Susatyo.
Berangkat dari permasalahan tersebut, pelatihan ini menetapkan tiga tujuan utama: memahami konsep modul berbasis kompetensi, mengintegrasikan teori dengan praktik, serta mengembangkan kerangka modul yang benar-benar operasional.
Pentingnya Evidence-Based Practice (EBP) di Ruang Praktik
Memasuki sesi materi utama, Wisnu Sri Hertinjung selaku Narasumber dalam Workshop ini memaparkan bahwa tulang punggung dari penyusunan modul yang baru adalah pendekatan Evidence-Based Practice (EBP) dan Competency Based Training (CBT).

EBP merupakan pendekatan praktik profesional yang tidak hanya mengandalkan insting, melainkan integrasi terbaik antara tiga elemen: bukti ilmiah (research evidence), keahlian klinis praktisi (clinical expertise), dan karakteristik klien (client characteristics).
“Sebagai contoh dalam asesmen, tes kecerdasan WISC atau CPM memang memiliki validitas ilmiah yang tinggi. Namun dalam praktiknya (EBP), seorang psikolog tidak bisa memukul rata. Kita harus mempertimbangkan usia, kemampuan bahasa, hingga kondisi budaya klien. Jika anak memiliki kendala bahasa, tes CPM bisa menjadi alternatif yang lebih tepat,” papar Hertin memberikan ilustrasi teknis.
Prinsip serupa juga berlaku dalam modul intervensi. Meskipun banyak literatur menyebutkan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) efektif untuk depresi ringan hingga sedang, praktiknya di lapangan harus tetap disesuaikan dengan nilai budaya setempat maupun usia klien.
Asesmen dalam EBP tidak dilihat sebagai prosedur kaku, melainkan sebuah proses uji hipotesis yang terus berkembang (iteratif) menggunakan berbagai metode (multimetode), seperti wawancara, observasi, dan tes psikologi.
Membangun Modul yang Operasional dan Terukur
Selain EBP, pelatihan ini juga menekankan pentingnya Competency Based Training (CBT) dalam penulisan modul. Pendekatan ini berfokus pada hasil akhir (outcomes), di mana kriteria penilaian harus dibuat sejelas mungkin agar evaluasi performa mahasiswa berjalan objektif.
Agar tidak lagi berfokus pada teori semata, modul yang baru dituntut memiliki implikasi yang nyata: harus operasional (langkahnya konkret), berbasis kasus (menggunakan situasi nyata), terintegrasi, dan terukur.
“Sebuah modul profesi tidak boleh ditulis hanya dari satu sumber literatur saja. Modul harus menjadi ramuan dari jurnal ilmiah, manual tes psikologi, panduan praktik profesional, hasil penelitian dosen, hingga best practice atau pengalaman klinis langsung dari para dosen saat menangani klien,” tegas narasumber.
Struktur yang Konkret dan Spesifik
Dalam pelatihan ini, peserta juga dibekali dengan panduan membedakan fokus penyusunan. Modul Asesmen akan difokuskan pada pengumpulan, interpretasi data, serta perumusan hipotesis diagnostik. Sementara itu, Modul Intervensi akan berpusat pada perencanaan program perubahan perilaku.
Untuk mempercepat implementasi, pelatihan ditutup dengan skema pembentukan tim penyusun modul yang sangat terstruktur. Tim dibagi berdasarkan spesifikasi, mulai dari tim asesmen, intervensi, penentu kasus, hingga tim perumus evaluasi dan rubrik.
Nantinya, setiap modul asesmen tes kecerdasan yang dihasilkan tidak hanya memuat landasan teori dan cara skoring, tetapi juga dilengkapi dengan lampiran praktis yang wajib ada di dunia profesional. Lampiran tersebut meliputi rekam skor mentah, lembar catatan observasi perilaku klien, template baku penulisan laporan psikologis, lembar informed consent (persetujuan etis klien), hingga lembar rubrik penilaian dari supervisor.
Melalui standardisasi Modul ini, diharapkan para mahasiswa psikologi dapat berlatih dengan lebih konkrit serta merepresentasikan dunia profesional yang sesungguhnya.


