ums.ac.id, Surakarta, 3 Maret 2026 – Memasuki usia 20-an sering kali terasa seperti menjelajahi labirin tanpa peta. Ada tuntutan untuk segera mendapat pekerjaan mapan, mandiri secara finansial, hingga ekspektasi untuk memulai hubungan yang serius. Rentetan tekanan ini tak jarang memicu rasa cemas, bingung, dan perasaan tertinggal dari teman sebaya.
Fenomena yang akrab disebut Quarter Life Crisis (Krisis Seperempat Abad) ini menjadi sorotan utama dalam program UMS Insight episode ke-9. Dipandu oleh Yusuf, bincang santai ini menghadirkan Pakar Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Septian Wahyu Rahmanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog, untuk membedah krisis usia 20-an ini secara lugas.

Bukan Penyakit, Melainkan Tantangan Perkembangan
Mengutip konsep yang diperkenalkan oleh Wilner dan Robbins, Septian menjelaskan bahwa Quarter Life Crisis umumnya menyapa mereka yang berada di rentang usia 20 hingga 29 tahun. Namun, bibit kebingungan ini bisa saja muncul lebih awal di usia 18 tahun, tepat saat seseorang lulus SMA dan dihadapkan pada persimpangan jalan hidupnya.
“Quarter life crisis itu tantangan perkembangan di usia 20-an yang ditandai rasa tidak nyaman, cemas, dan bingung karena tuntutan hidup. Itu bukan gangguan mental. Itu fase yang umum dialami. Tantangan perkembangan saja,” tegas Septian.
Meskipun wajar, Septian memberikan peringatan. Jika perasaan gagal, putus asa, dan kecemasan akan masa depan ini dibiarkan berlarut-larut tanpa manajemen emosi yang baik, kondisinya bisa memburuk dan berujung pada depresi klinis.
Jebakan Ekspektasi di Era Media Sosial
Di era digital saat ini, tekanan Quarter Life Crisis sering kali diperparah oleh kebiasaan membandingkan pencapaian diri sendiri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di dunia maya. Melihat teman sebaya sudah membeli rumah atau meraih promosi karir bisa memicu krisis kepercayaan diri yang hebat.
“Sekarang tantangannya adalah kemampuan memfilter informasi. Tidak semua yang kita lihat di media sosial harus jadi standar hidup kita,” pesan dosen Fakultas Psikologi UMS tersebut.
Langkah Taktis Berdamai dengan Krisis
Lantas, bagaimana cara keluar dari fase yang membingungkan ini? Menurut Septian, langkah pertama dan paling krusial adalah Penerimaan Diri. Jujurlah pada diri sendiri mengenai perasaan yang sedang berkecamuk.
Ia menyarankan anak muda untuk mulai berdialog dengan diri sendiri (refleksi internal). Pertanyakanlah, “Kenapa saya memikirkan ini? Dampaknya ke saya apa?” Melalui dialog ini, seseorang dapat memetakan kelebihan, kelemahan, serta merumuskan kembali tujuan hidupnya dengan lebih realistis.
Bagi mahasiswa yang merasa beban pikiran tersebut terlalu berat untuk ditanggung sendirian, mencari bantuan profesional adalah langkah yang bijak. UMS sendiri telah menyediakan fasilitas konseling gratis bagi mahasiswa di SMHWS UMS.