Hari Anak Nasional 2026: Guru Besar Psikologi UMS Tekankan Pentingnya Rumah sebagai Ruang Aman untuk Anak

[Repost] Surakarta, 24 Juli 2026 – Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap tanggal 23 Juli menjadi momen bagi keluarga dan masyarakat untuk kembali menjadikan anak sebagai prioritas utama sekaligus memastikan setiap hak mereka terpenuhi secara utuh. Guru Besar Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa masa depan sebuah bangsa amat bergantung pada kualitas tumbuh kembang anak sejak usia dini.

Arsip UMS

Sri Lestari berpandangan, Hari Anak Nasional semestinya dijadikan momen refleksi bagi orang tua maupun masyarakat luas untuk menilai kembali apakah hak-hak anak sudah terpenuhi, apakah mereka hidup dengan bahagia, dan apakah mereka tumbuh di lingkungan yang aman. Ia menyoroti bahwa maraknya kasus kekerasan, perundungan, hingga penindasan terhadap anak menjadi bukti bahwa penciptaan ruang aman bagi anak masih menjadi tugas bersama yang belum tuntas.

Guru Besar Psikologi Keluarga, FPsi UMS – Prof. Dr. Sri Lestari, M.Psi., Psikolog

Ditinjau dari sudut pandang psikologi keluarga, Sri Lestari menilai masih banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami hak-hak dasar yang dimiliki anak. Salah satunya ialah hak anak untuk menyuarakan pendapatnya serta memperoleh ruang menentukan pilihan sesuai tahap perkembangan usianya. Ia mengungkapkan, tidak sedikit remaja yang menempuh pendidikan tinggi bukan atas dasar keinginan sendiri, melainkan karena dorongan atau kehendak orang tua.

Di samping itu, ia turut menyoroti tantangan besar yang harus dihadapi anak-anak di era digital saat ini. Ia menyebutkan, pemakaian gawai yang berlebihan membuat anak kehilangan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung, bahkan berpotensi membuat mereka merasa kesepian sekalipun sedang berada di tengah teman maupun keluarganya. Situasi ini pun turut berimbas pada menurunnya intensitas komunikasi di dalam keluarga.

Sri Lestari mengingatkan, kebiasaan memberikan gawai kepada anak sejak usia dini dengan tujuan agar mereka tenang justru berpotensi menghambat proses tumbuh kembangnya. Anak-anak prasekolah, menurutnya, membutuhkan interaksi, sentuhan, serta komunikasi yang intens agar dapat mengenali emosinya, mengasah kemampuan berbicara, dan melatih pengendalian diri. Ia menyebut meningkatnya kasus speech delay atau keterlambatan bicara pada anak sebagai salah satu dampak yang patut diwaspadai bersama.

Selain itu, kemampuan mengenali emosi sejak dini menjadi fondasi yang tidak kalah penting guna mencegah berbagai persoalan psikologis di kemudian hari, termasuk perilaku perundungan. Anak yang terbiasa mengenali dan mengelola emosinya sejak kecil akan memiliki kendali diri yang jauh lebih baik dibandingkan anak yang tidak mendapatkan pendampingan serupa.

Menyinggung soal maraknya kasus bullying, Sri Lestari menerangkan bahwa korban perundungan berisiko mengalami trauma, rasa cemas berlebih, hilangnya kepercayaan diri, hingga terhambatnya pengembangan potensi diri. Dampak tersebut, kata dia, tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, melainkan juga dapat memengaruhi kehidupan sosial serta akademik anak dalam kurun waktu yang panjang.

Guna membentuk anak yang percaya diri dan mandiri, Sri Lestari menggarisbawahi pentingnya menghadirkan rumah sebagai ruang yang aman bagi anak. Orang tua, menurutnya, perlu menerima anak apa adanya, membiasakan diri untuk mendengarkan cerita anak tanpa buru-buru menghakimi, serta tidak menjadikan prestasi akademik sebagai satu-satunya fokus dalam komunikasi sehari-hari. Ia menilai, kebiasaan berdialog semacam ini akan membuat anak lebih terbuka tatkala menghadapi persoalan.

Ia turut menegaskan bahwa lingkungan yang ramah bagi anak hanya dapat terwujud melalui kolaborasi antara keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat secara luas. Para guru di sekolah, kata dia, sebaiknya tidak membanding-bandingkan kemampuan seorang anak dengan teman maupun saudara kandungnya, sebab pengalaman tersebut dapat meninggalkan bekas hingga anak beranjak dewasa. Sri Lestari bahkan turut membagikan pengalaman pribadinya, ketika sang anak masih menyimpan dampak psikologis akibat kerap dibandingkan dengan kakaknya semasa duduk di bangku sekolah dasar.

Mengakhiri pesannya dalam rangka Hari Anak Nasional, Sri Lestari mengajak para orang tua untuk memenuhi hak-hak anak lewat langkah-langkah sederhana setiap harinya, mulai dari menyediakan asupan gizi yang sehat, membatasi konsumsi makanan ultra-proses, mengurangi ketergantungan pada gawai, hingga meluangkan waktu untuk berkomunikasi bersama anak. Ia meyakini, kepedulian yang tumbuh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan fondasi utama dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, baik secara fisik maupun mental. (Yusuf/Humas)

Scroll to Top