psikologi.ums.ac.id – Fakultas Psikologi UMS kembali mengadakan agenda rutin fakultas tiap bulannya yaitu Pengajian untuk seluruh keluarga besar Psikologi UMS. Acara berlangsung di rumah Bapak Setiyo Purwanto, M.Si., Psikolog dihadiri sekitar 50 orang yang terdiri dosen, karyawan dan tenaga kependidikan bersama keluarga. Pada edisi kali ini, yang mengisi kajian adalah Bapak Soleh Amini, M.Si., Psikolog. Berikut isi dari kajian yang bertemakan “Puasa Mencerdaskan Kehidupan Jiwa”:
PUASA MENCERDASKAN KEHIDUPAN JIWA
Makna puasa secara syar’i adalah mencegah dari makan dan minum atau hal lain yang membatalkan puasa dari sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Jika puasa hanya dimaknai dan dijalankan sebatas pengertian tersebut maka sesungguhnya manusia telah melakukan amalan yang sia-sia. Dalam pengertian ini puasa tidak akan memberi pengaruh positif bagi upaya pencerdasan kehidupan jiwa, sehingga jiwa mulia yang diharapakan muncul sebagai efek amalan puasa tidak terjadi. Jiwa tetap menjadi bebal, baik secara spiritual maupun secara sosiokultural. Dalam kontek yang demikian ini, puasa justru akan menjebak manusia untuk melakukan hal yang kontra produktif dan ritualitas peribadahan yang semu atau perifer.
Ketika Allah memerintahkan manusia untuk berpuasa, sesungguhnya Allah memerintahkan manusia agar bersekolah. Artinya puasa hendaknya dijadikan sebagai media pembelajaran atau bermadrasah. Yaitu belajar menahan hawa nafsu, terutama nafsu nafsu lauwamah, menahan berbagai bentuk keinginan yang berlebihan dan mengendalikan diri dari segala keburukan (prilaku fasad dan munkar). Sehingga manusia terselamatkan dari kebodohan yang paling bodoh, yaitu kekufuran dan ketidakberimanan atas keagungan, keesaaan dan kemuliaan Allah. Maka agar tidak menjadi bodoh, diperintahkanlah manusia untuk berpuasa, karena puasa itu madrasah ruhaniyah.
Tujuan utama berpuasa yang sebenarnya adalah memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbaharui diri dan sekaligus menciptakan kehidupan yang lebih baik, sehingga mewujut kualitas taqwa dalam kehidupannya. Untuk mencapai tujuan tersebut tidak ada jalan lain kecuali dengan mentarbiyahkan jiwa atau dimensi ruhaniyah manusia sehingga terwujut intelektualitas kejiwaan. Dengan intelektualitas ini manusia dapat dan sanggup menerima kebenaran dan membenarkan ajaran-ajaran Allah, sehingga manusia yang berpuasa tergolong sebagai orang yang ulil albab. Orang-orang ulil albab inilah yang dimaksud sebagai orang yang tataqun sebagaimana disebut dalam akhir surah Al Baqarah ayat 183.
Dimensi sosioreligiusitas dalam puasa
Dalam proses pembelajaran tersebut, puasa mempunyai dimensi sosial dan dimensi ketuhanan/sosioreligiustas. Artinya puasa tidak hanya mengajarkan manusia untuk menyembah dan berbakti kepada Allah saja. Puasa juga membawa ajaran untuk mengembangkan perilaku-perilaku humanis yang bersifat horizontal atau hablumminnas. Puasa membawa juga ajaran untuk mengembangkan nilai keseimbangan ruhaniah dan jasadiyah. Dengan kata lain puasa tidak hanya berdimensi ibadah vertikal (menyembah Allah) tapi juga mengajarkan bagaimana bersikap empatik terhadap derita orang miskin yang sering merasakan lapar karena kemiskinannya. Secara jasadiah puasa ‘hayalah’ amalan berupa menahan rasa lapar dan minum serta mengendalikan diri dari perilaku seksual dari sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.
Pelajaran atau ibrah yang muncul dari “puasa” jasadiah ini adalah bagaimana rasanya lapar dan dahaga mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku seseorang, sehingga ada pengalaman secara langsung yang dirasakan. Orang yang mau berfikir akan menjadikan pengalaman ini sebagai landasan untuk mengembangkan perilaku empatik terhadap orang-orang miskin yang sering merasa lapar dan dahaga karena kemiskinannya. Secara psikologis perilaku empatik yang muncul karena pengalaman langsung ini akan menghindarkan seseorang dari perilaku congkak, sombong atau takabur. Sebaliknya justru akan membawa seseorang pada perilaku syukur, kona’ah dan tawadu’, suka bersedekah, menjadi penyayang dan tahu diri. Dengan demikian maka indikator keberhasilan puasa sebagai media pembelajaran jiwa baru dapat dideteksi dari sisi horizontal atau lahiriahnya saja. Hal itu tercermin melalui keluhuran budi pekerti yang ditunjukkan dengan sikap empatik, simpatik, jujur, adil, tenggang rasa, ramah, belas kasih, menghargai orang lain, suka bersedekah, lebih giat beribadah dan lain-lain. Pada Sedangkan aspek ruhhiyahnya hanya allah yang berhak menilai. Dengan demikian di antara hikmah penting dari ibadah puasa ramadhan adalah mendidik umat untuk mempunyai irama kehidupan bersama yang damai, cerdas secara sosial, berkeseimbangan antara perilaku duniawiah dan ukhrowiyahnya sehingga idialitas masyarakat yang baldatun toyyibatun warobbul ghofur dapat terwujut dalam kehidupan umat.
Kekeringan Ruhaniah
Menempatkan puasa sebagai sekolah jiwa atau madrasah ruhaniyah, sangat tepat bila dikaitkan dengan kondisi kekinian umat yang semakin hari semakin kering dari rasa damai dan tentram. Umat tengah menghadapi kemarau ruhaniah yang panjang. Belakangan ini kekerasan seakan telah menjadi bagian terbesar dari kehidupan umat. Di rumah, di jalan, di sekolah, di kantor dan di manapun umat berada maka kekerasan (agresifitas dan violence) seakan menjadi warna yang dominan. Hal itu tidak hanya dilakukan orang dewasa, bahkan anak-anak pun melakukannya. Dengan kata lain kekerasan, kejahatan, kedzoliman tidak lagi hanya dilakukan oleh para penjahat tetapi juga dikerjakan oleh orang-orang terpelajar dan orang-orang alim yang berpendidikan tinggi serta paham ilmu-ilmu agama.
Di sinilah urgensi terpenting menempatkan puasa sebagai media pembelajaran, sehingga umat benar-benar terselamatkan dari kebodohan dan kemuliaan yang semu dan serta mampu bertahan dalam menghadapi penderitaan. Tidak mudah putus asa ketika derita dan ujian menghadangnya. Hal inilah yang seharusnya menjadi indek prestasi kumulatif bagi alumni madrasah ruhaniah yang bernama ‘puasa’.
Konsumerime dalam Puasa
Hal lain yang diajarkan dalam madrasah ruhaniah mengenai ibadah puasa ini adalah mengenai pengekangan perilaku konsumtif. Sudah menjadi rutinitas masyarakat Indonesia, setiap kali datang bulan ramdhaan maka tingkat konsumsi pun meningkat bahkan sering berlebihan. Hal itu diikuti oleh naiknya harga-harga kebutuhan dasar maupun kebutuhan-kebutuhan sekunder, dan ujung-ujungnya bulan ramadhan dituduh sebagai biang keladi terjadi inflasi karena tingginya tingkat konsumsi masyarakat.
Dalam kaitan inilah spirit ramadhan, menjadi hal yang sangat penting dan relevan untuk kembali dipelajari dalam madrasah ruhaniyah guna menangkal dan bahkan untuk menggugat keberadaan pasar yang cenderung dzolim terhadap nilai-nilai kehidupan umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Oleh karena itu bila yang tampak sekarang ramadhan identik dengan ramainya pasar dan tingginya tingkat konsumsi masyarakat, maka sesungguhnya hal itu tidak lepas dari spirit ramadhan yang dibelokkan oleh kekuatan pasar. Maka tidaklah mengherankan jika bulan puasa baru saja dimulai, maka yang dikampanyekan oleh pasar adalah sirup yang lezat, busana yang indah, kendaraan mudik yang nyaman, liburan lebaran yang aduhai, kue-kue lebaran dan lain-lain. Sehingga ketika umat baru saja memasuki hari kesatu atau kedua bulan ramadhan, yang terpikir dibenaknya adalah menikmati kemewahan dan suasana lebaran. Semua bermunculan secara simultan di ruang maya maupun ruang nyata. Oleh karena itu menjadi hal yang jamak untuk dipahami jika pada minggu pertama bulan puasa, hypermarket, supermarket, mall dan toko-toko dan pasar menjadi lebih ramai dibanding tempat ibadah tarwih dan tempat tadarus Al-Qur’an. Hal inilah yang menjadikan nilai keberagamaan dan nilai ramadhan menjadi terasa kering. Ibadah puasa ramadhan lebih cenderung bersifat rutinitas belaka, sehingga tidak menyentuh kehidupan umat yang sebenar-benarnya.
Melihat persoalan yang demikian ini, maka sudah tiba waktunya untuk melakukan pembenahan kembali terhadap pemahaman tentang esensi dan substansi puasa ramadhan. Di tengah kepungan dan intervensi pasar yang sedemikian hebat ini, bagaimana umat Islam dapat menemukan dan membangun kembali spirit ramadhan yang telah luntur ini ? Kata kunci atas jawaban dari pertanyaan ini adalah menjadikan puasa sebagai madrasah ruhaniyah yang bertujuan untuk memajukan ruhaniah manusia yang dengan mudah melakukan dosa , menjadi ruhani yang berdaya tahan tinggi terhadap godaan-godaan duniawi. Hanya jiwa-jiwa yang cerdas saja yang akan mampu menjadikan puasa sebagai pendidikan ruhaniahnya. Marhaban ya Ramadhan. Kami rindu kesyahduan dan bau harummu. Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan . Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba hamba yang mempnyai jiwa-jiwa yang cerdas dan mulia.