
Paradigma Mekanistik – Humanistik – Teisteika
Oleh Prof. Taufik Kasturi, M.Si., Ph.D
Paradigma psikologi Islam yang di dalamnya kita mengupas diantaranya adalah paradigma Fitrah bahwasanya ada relasi di antara kondisi-kondisi manusia baik kondisi dia dengan dirinya dia dengan lingkungannya ataupun dia dengan sang penciptanya yang kita sebut dengan relasi yang mekanistis, relasi yang humanistis relasi yang teistis dari aspek jismiah, aspek fisik nafsiah, aspek psikologis dan ruhaniah atau aspek spiritual ada ini bersumber dari relasi yang integral antara alam manusia dan Allah subhanahu wa taala relasi alam disebut dengan mekanistis, relasi dengan manusia yang disebut dengan humanistik dan relasi dengan Allah subhanahu wa taala yang teistik. Maka dari relasi ketiganya lahirlah relasi mekanistik humanistis dan teistis sedangkan ilmu psikologi yang kita pelajari selama ini yang bersumber dari barat berada pada ranah yang mekanistis dan humanistis tanpa menyentuh aspek teistis. Paradigma mekanistis itu menjung tinggi prinsip-prinsip akibat prinsip-prinsip kausalitas di dalam memahami manusia, kalau kita menghidupkan mematikan listrik dari saklar misalnya, itu adalah sifatnya mekanistis kita pencet yang atas akan menyala pencet yang bawah akan mati, kita menghidupkan recorder kita menghidup bukan HP itu adalah mekanistis, seperti AC DC dari a pindah ke b b pindah ke a perilaku a menyebabkan B perilaku B menyebabkan C ini adalah mekanistis, seperti orang ketika haus dia akan minum, ketika dia lapar dia akan makan. Ini adalah mekanistis ketika dia dipukul dia akan balas memukul, ini adalah mekanistis ketika dia diberi sesuatu diberikan hadiah oleh orang lain dia akan memberikan hadiah ini adalah mekanistis. Ini adalah prinsip-prinsip kausalitas dan seakan-akan manusia itu tunduk pada pengalaman tunduk pada lingkungan, perilakunya itu seakan-akan disetir oleh orang lain kita akan berbuat kepada orang lain kalau orang lain berbuat baik kepada kita kebaikan kita disetir oleh orang lain, kita akan berbuat buruk pada orang lain ketika dia berbuat buruk kepada kita, seakan-akan perilaku kita diarahkan oleh orang lain. Nah kalau kita hidup dengan cara seperti ini maka kita hidup seperti mesin kita mekanistis, kita deterministis ditentukan perilakunya oleh orang lain, kita pesimistis tidak punya independensi tidak punya free sehingga kita disebut dengan pesimistis.
Selengkapnya dapat disaksikan pada laman YouTube Fakultas yang berjudul Paradigma Mekanistik – Humanistik – Teisteika