Surakarta, 31 Maret 2026 –Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya terkait isu kesehatan mental berbasis nilai-nilai keislaman. Komitmen ini tecermin melalui pemaparan para akademisi dari Fakultas Psikologi UMS yang menekankan betapa pentingnya memadukan aspek spiritual ke dalam penanganan psikologis, terutama untuk mengatasi masalah depresi di kalangan masyarakat muslim.
Mengatasi Krisis Makna Hidup dengan Islamic Mindfulness Model (IMM)
Setiyo Purwanto, S.Psi., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa depresi bukan sekadar persoalan perilaku, melainkan juga sebuah krisis terhadap makna hidup.
“Banyak individu kehilangan arah dan tujuan, yang pada akhirnya membuat mereka merasa terputus dari makna kehidupan itu sendiri,” ujar Setiyo pada hari Selasa (31/3).
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa depresi telah menjadi masalah kesehatan mental global yang serius, terutama di kalangan dewasa muda. Kondisi ini sering kali ditandai dengan tingginya kecenderungan memikirkan sesuatu secara berlebihan (overthinking), serta perasaan terasing—baik dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitarnya.
Menurut Setiyo, meskipun berbagai pendekatan klinis yang ada—seperti aktivasi perilaku (behavioral activation) dan kesadaran penuh (mindfulness)—telah terbukti efektif secara medis, masih terdapat keterbatasan yang perlu diperhatikan. Salah satu kekurangan utamanya adalah minimnya keterlibatan aspek spiritual. Banyak model psikologis saat ini cenderung bersifat sekuler, yakni membangun makna hidup secara mandiri tanpa melibatkan dimensi ketuhanan. Hal ini dinilai kurang sesuai bagi individu muslim yang senantiasa menjadikan keimanan sebagai pusat dari kehidupannya.
Sebagai solusi, Setiyo menawarkan Islamic Mindfulness Model (IMM), sebuah pendekatan yang memadukan kesadaran psikologis dengan nilai-nilai keimanan. Melalui model ini, kesadaran tidak lagi berpusat pada diri sendiri, melainkan kepada Allah SWT., sehingga berbagai pengalaman hidup dapat dimaknai melalui kacamata spiritual.
Model IMM dibangun atas tiga pilar utama yang menghasilkan tiga lapisan penanganan klinis:
- Teori Kognitif-Perilaku: Membantu menghasilkan pengaturan atau regulasi perhatian penderita.
- Pembentukan Makna: Bertujuan untuk menyusun dan merekonstruksi ulang makna hidup.
- Penyelesaian Masalah (Coping) Religius: Mengaktifkan nilai-nilai yang berorientasi pada amanah sebagai wujud tanggung jawab spiritual.
Adaptasi Budaya melalui Behavioral Activation for Muslim (BA-M)
Sementara itu, Lusi Nuryanti, S.Psi., M.Si., Ph.D., bersama dengan Bayu Suseno, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memaparkan tentang pengembangan Behavioral Activation for Muslim (BA-M). Metode ini hadir sebagai bentuk adaptasi penanganan psikologis yang dirancang khusus untuk menjawab kebutuhan masyarakat muslim di Indonesia yang memiliki tingkat religiusitas tinggi.

“Tingginya angka depresi di Indonesia, khususnya di kalangan usia muda, menjadi latar belakang penting di balik pengembangan BA-M ini,” tegas Lusi.
Ia juga menyoroti masih rendahnya kebiasaan masyarakat dalam mencari bantuan profesional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan pendekatan psikologis yang lebih dekat dengan keseharian dan lebih mudah diterima secara budaya.
Dalam penerapannya, BA-M membantu penderita untuk kembali terlibat dalam berbagai aktivitas bermakna yang selaras dengan ajaran agama Islam. Proses terapi ini dilakukan secara bertahap dan terukur, dengan tahapan sebagai berikut:
- Penilaian (Asesmen): Mengevaluasi kondisi psikologis klien secara menyeluruh.
- Eksplorasi: Menggali secara mendalam pengalaman hidup klien.
- Penyusunan Aktivitas: Merancang kegiatan harian yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan.
Bayu Suseno menambahkan bahwa hasil penerapan BA-M telah menunjukkan adanya penurunan yang nyata (signifikan) pada gejala depresi dan kecemasan, serta peningkatan produktivitas aktivitas klien.
“Pendekatan ini juga dilengkapi dengan modul terapi mandiri serta buku panduan praktis yang dapat digunakan oleh berbagai kalangan profesional,” tutup Bayu.








