Fakultas Psikologi UMS Gelar Workshop Penyusunan Naskah Publikasi Jurnal Bereputasi Internasional – Series Workshop Pusat Studi

Surakarta, 22 Juli 2026 – Pusat Studi Psikologi Islam, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kembali menyelenggarakan Workshop Penyusunan Naskah Publikasi Jurnal Bereputasi, sebagai kelanjutan tahap kedua dari rangkaian tiga tahap kegiatan pengembangan kapasitas riset dosen. Berbeda dari sesi pertama yang berfokus pada penyusunan proposal penelitian, sesi tahap kedua ini secara khusus membahas strategi menyusun naskah (manuskrip) publikasi agar layak dan diterima di jurnal bereputasi internasional. Kegiatan diselenggarakan di Ruang Hybrid Lantai 2 Fakultas Psikologi UMS dengan menghadirkan Santi Sulandari, M.Ger., Ph.D. sebagai narasumber utama, dan dipandu oleh Audi Ahmad Rikardi, M.A.

WAkil Dekan 3 – Audi Ahmad Rikardi, M.A

Dokumentasi lengkap kegiatan dapat diakses melalui tautan YouTube berikut.

Dalam paparannya, Dr. Santi Sulandari membuka sesi dengan memetakan tiga jenis penolakan manuskrip yang paling sering ditemui: penolakan karena ketidaksesuaian scope jurnal, penolakan karena kelemahan konten/metodologis (science reject), dan penolakan karena lemahnya presentasi dan logika tulisan (the narrative reject). Beliau membagikan pengalaman pribadinya berulang kali ditolak oleh jurnal bereputasi tinggi meski desain risetnya relevan, semata-mata karena tidak sesuai dengan scope dan fokus jurnal yang dituju.

Narasumber Penulisan Artikel Publikasi Ilmiah – Santi Sulandari, M.Ger., Ph.D

 

“Saya pernah submit di jurnal yang memiliki impact factor sangat tinggi, karena memang ada topik risetnya yang sama persis dengan riset saya. Tetapi ternyata saya miss satu hal, bahwa artikel yang terbit di situ kebanyakan adalah clinical studies, punya saya ada di community settings, sehingga otomatis reject.” — Dr. Santi Sulandari

Beberapa poin substantif yang disampaikan dalam sesi ini meliputi:

  • Anatomi Manuskrip (IMRaD): Sebuah naskah publikasi ilmiah harus memuat elemen Title, Abstract, Introduction, Method, Result, Discussion, dan References secara terstruktur dan saling terkait, bukan berdiri sendiri-sendiri.
  • Judul dan Abstrak yang Kompetitif: Judul sebaiknya spesifik, memuat variabel dan populasi penelitian, dengan panjang sekitar 10–15 kata serta menghindari gaya lama seperti “a study of…”. Abstrak idealnya memuat konteks, gap, tujuan, metode secara rinci, hasil, dan implikasi penelitian secara ringkas dan padat.
  • Kejelasan Gap dan Novelty: Peneliti harus secara eksplisit menjelaskan bagaimana penelitiannya menjawab gap yang ada, tanpa berasumsi bahwa reviewer memahami konteks budaya atau latar belakang Indonesia.
  • Kerincian Bagian Metode: Bagian metode harus ditulis sangat detail — mulai dari proses rekrutmen partisipan, kriteria inklusi-eksklusi, alat ukur yang digunakan, hingga tahapan analisis data — untuk mendukung prinsip reproduksibilitas riset.
  • Struktur Bagian Diskusi: Paragraf pembuka diskusi wajib merangkum temuan utama (summary of findings), dilanjutkan dengan membandingkan hasil terhadap literatur sebelumnya secara kritis, bukan sekadar menyatakan kesamaan atau perbedaan, disertai limitasi dan implikasi riset yang konkret.
  • Preprint dan Preregistrasi: Publikasi preprint melalui platform seperti OSF atau Research Square dapat mempercepat diseminasi hasil riset sekaligus melindungi orisinalitas desain penelitian yang sedang berjalan.
  • Strategi Menghadapi Komentar Reviewer: Peneliti disarankan untuk tetap tenang, menyusun komentar reviewer dalam bentuk tabel, mendahulukan poin yang mudah diselesaikan, mengakomodasi sebagian besar masukan, serta menyampaikan apresiasi dalam setiap tanggapan kepada reviewer.
  • Urutan Kepenulisan (Authorship): Dalam konvensi akademik internasional, penulis pertama dan penulis terakhir (last author) sama-sama menjadi indikator kontribusi penting, di mana posisi penulis terakhir umumnya mencerminkan kontribusi konseptual dan keilmuan yang besar dari peneliti senior.

Terkait kerincian bagian metode, Dr. Santi menekankan bahwa porsi bagian ini kerap diremehkan peneliti Indonesia, padahal semestinya sebanding dengan porsi pendahuluan:

“Kita itu harus sangat-sangat rinci di bagian method. Kalau dicek, portion method dengan introduction itu hampir sama besar, bahkan bisa lebih banyak method-nya. Karena ini terkait dengan reproduction dan duplication dalam riset — kita dituntut melaporkan riset kita sedetail mungkin, sehingga peneliti berikutnya bisa mengadaptasi rancangan penelitian kita.” — Dr. Santi Sulandari

Pada bagian diskusi, Dr. Santi juga mengingatkan peserta untuk tidak ragu mengakui keterbatasan risetnya sendiri, karena sikap terbuka justru memperkuat kredibilitas sebuah naskah publikasi:

“Kita bukan Mahadewa, kita bukan Mahadewi yang tanpa celah. Jadi pasti ada kurangnya risetnya. Sampaikan di limitation.” — Dr. Santi Sulandari

Mengaitkan dengan materi sesi sebelumnya, Dr. Santi menegaskan kembali sebuah refleksi yang disampaikan oleh Dr. Nisa Rachma Nur Anganthi pada Workshop tahap pertama:

“Orang Indonesia itu cerdas dan kreatif… risetnya itu luar biasa, idenya luar biasa, desainnya wow sekali. Tapi kenapa kira-kira ini masih kurang bisa bersaing dengan manuskrip-manuskrip yang publish? […] Karena menuangkannya saja yang tidak sesuai dengan tuntutan di dunia akademisi internasional. Sehingga itu yang membuat celah kita baru submit aja di-reject.” — Dr. Santi Sulandari

Beliau juga menekankan pentingnya kejelasan dan keterusterangan dalam menulis, khususnya bagi peneliti Indonesia yang menurutnya cenderung terbiasa berkomunikasi secara implisit:

“Don’t assume your reviewer share your culture. If your friend understand it, your reviewer might not. If your reviewer understand it, your paper is stronger.” — Dr. Santi Sulandari

Menutup sesi, Dr. Santi berbagi pengalaman pribadinya menerima puluhan komentar tajam dari reviewer pada naskah pertamanya yang sempat membuatnya marah dan kecewa, sebelum akhirnya ia belajar mengelola emosi dan merespons secara profesional dan terstruktur:

“Ketika dapat review pertama kali, marah, pusing, bingung, itu semua jadi satu. Keep calm. Jangan langsung revisi — berhari-hari dulu, jalan-jalan dulu, makan-makan yang disukai, karena memang benar-benar itu ya kayak enggak terima kok bisa-bisanya ini salah semua. [Setelah itu] saya bikin tabel, saya highlight mana yang mudah dan mana yang butuh waktu, lalu saya prioritaskan yang mudah dulu — addressing the easiest one to the most challenging one.” — Dr. Santi Sulandari

Merangkum pengalamannya, Dr. Santi membagikan lima langkah strategis yang bisa diadopsi peserta ketika menghadapi penolakan (rejection) dari jurnal ilmiah:

  1. Tenangkan Diri Dahulu: Jangan terburu-buru merespons atau merevisi saat emosi masih meluap. Ambil jeda waktu beberapa hari untuk menenangkan diri dan menerima keputusan tersebut secara objektif.
  2. Kelola Masukan Reviewer dengan Tabel: Saat melakukan revisi, buatlah tabel untuk membedah setiap komentar reviewer. Cara ini membantu mengelola puluhan poin komentar agar lebih terstruktur dan tidak ada yang terlewat.
  3. Bersikap Akomodatif namun Kritis: Sebisa mungkin penuhi masukan reviewer yang bisa diakomodasi untuk meningkatkan kualitas manuskrip. Namun jika ada poin substantif atau fundamental yang tidak disepakati, penulis berhak melakukan defense dengan argumen dan data pendukung yang kuat secara profesional.
  4. Prioritaskan Tugas: Mulailah dari poin-poin yang paling mudah dikerjakan terlebih dahulu untuk membangun momentum dalam proses revisi.
  5. Evaluasi Kesesuaian Scope: Seringkali penolakan terjadi karena ketidakcocokan antara fokus riset dengan cakupan (scope) atau tujuan jurnal. Jika riset memang tidak sesuai, jangan ragu untuk memperbaiki manuskrip dan mencari jurnal lain yang lebih align dengan topik tersebut.

Sesi dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama peserta. Menjawab pertanyaan peserta mengenai cara menghindari redundansi ide antarparagraf, Dr. Santi membagikan kebiasaan menulisnya:

“Saya bikin kerangka dulu — per paragraf itu saya mau bahas apa, paragraf satu apa, paragraf dua apa, tiga, empat, lima. Baru setelah itu saya baca sekitar 30 sampai 50 artikel untuk mengisi plot-plot itu. Itu yang saya lakukan untuk menghindari redundansi.” — Dr. Santi Sulandari

“Keep Calm” – Ujar Santi

Terkait pertanyaan peserta seputar penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunan manuskrip, beliau menjelaskan:

“Di dunia akademisi untuk publikasi maupun proposal itu sekarang sudah sangat terbuka dengan penggunaan AI, asal di-state — harus ada AI statement, sejauh mana AI itu digunakan.” — Dr. Santi Sulandari

Diskusi turut membahas kriteria metode penelitian yang berpeluang diterima di jurnal bereputasi serta etika berkomunikasi dengan editor jurnal, sebelum peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan hasil review manuskrip masing-masing bersama tim reviewer internal Fakultas Psikologi UMS.


 

Scroll to Top