Surakarta, 15 Juli 2026 – Pusat Studi Psikologi Islam, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menyelenggarakan Workshop Penyusunan Proposal Penelitian dan Publikasi Ilmiah sebagai bagian dari rangkaian tiga tahap kegiatan pengembangan kapasitas riset dosen. Sesi tahap pertama ini menghadirkan Dr. Nisa Rachma Nur Anganthi, M.Si., Psikolog, sebagai narasumber utama, dan diselenggarakan di Ruang Hybrid Lantai 2 Fakultas Psikologi UMS. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antar-Pusat Studi di lingkungan Fakultas Psikologi UMS, dengan target luaran yang tidak berhenti pada penyusunan proposal, melainkan berlanjut hingga terbitnya publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi internasional.
Jalannya acara dipandu oleh moderator Permata Ashfi Raihana, M.A., dan secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan III Bidang Riset dan Publikasi, Audi Ahmad Rikardi, M.A. Dokumentasi lengkap kegiatan dapat diakses melalui tautan YouTube berikut.

Dalam sambutannya, Audi Ahmad Rikardi menyampaikan arahan strategis kepada para dosen peserta workshop, menekankan bahwa aktivitas penelitian hendaknya diorientasikan pada kontribusi keilmuan yang substantif, bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif semata.

“Proposal penelitian pada hakikatnya bukan sekadar dokumen administratif, melainkan representasi dari sebuah perjalanan gagasan ilmiah yang perlu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.”
Materi inti workshop yang disampaikan oleh Dr. Nisa Rachma Nur Anganthi, M.Si., Psikolog berfokus pada strategi penyusunan proposal penelitian yang kompetitif dan berpeluang tinggi untuk didanai. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan sebuah proposal tidak semata-mata ditentukan oleh kapasitas intelektual peneliti, melainkan juga oleh pemahaman mendalam terhadap standar penilaian reviewer serta ketelitian dalam aspek administratif. Beberapa poin substantif yang disampaikan dalam sesi ini meliputi:
- Faktor Penyebab Kegagalan Proposal: Kegagalan proposal umumnya bersumber dari perumusan judul yang kurang fokus, permasalahan penelitian yang belum cukup signifikan, minimnya unsur novelty (kebaruan), kelemahan pada desain metodologis, serta ketidaksesuaian dengan ketentuan template yang telah ditetapkan secara ketat oleh pemberi dana.
- Tiga Pilar Kesiapan Peneliti: Seorang peneliti perlu mempersiapkan tiga aspek utama, yaitu kesiapan mental (resiliensi dalam menghadapi penolakan), kesiapan administratif (kepatuhan penuh terhadap format yang disyaratkan), dan kesiapan substansi (konsistensi alur logika mulai dari judul hingga daftar pustaka).
- Kolaborasi dan Pengembangan Jejaring: Pembentukan tim riset yang kompeten dan saling melengkapi kompetensi menjadi faktor kunci keberhasilan. Dr. Nisa membagikan pengalamannya dalam membangun kemitraan riset melalui jejaring alumni maupun kolaborasi dengan pakar di institusi mitra.
- Inovasi dan Pengembangan Prototipe: Integrasi antara disiplin ilmu psikologi dengan teknologi—sebagaimana dicontohkan melalui pengembangan aplikasi Emocare—menjadi ilustrasi konkret bagaimana kolaborasi lintas disiplin dapat menghasilkan solusi yang berdampak luas bagi masyarakat.
Dalam paparannya, Dr. Nisa turut membagikan pengalaman pribadi mengenai dinamika perjalanan akademiknya, termasuk pengalaman penolakan yang berulang kali dialami dalam proses pengajuan grant research sebelum akhirnya mencapai pencapaian akademik pada posisinya saat ini. Beliau merekomendasikan agar peneliti mempelajari panduan penulisan proposal secara saksama, secara aktif meninjau kembali masukan dari reviewer, serta meninggalkan kebiasaan menyusun proposal secara mendadak menjelang tenggat waktu (pola kerja SKS/Sistem Kebut Semalam), dan sebagai gantinya menyusun linimasa kerja yang terstruktur jauh-jauh hari sebelum batas pengumpulan.

Sebagai penutup materi, Dr. Nisa merangkum empat elemen kunci keberhasilan dalam penyusunan proposal penelitian sebagai berikut:
- Kesiapan Mental: Memiliki resiliensi untuk menerima kemungkinan kegagalan, tidak mudah berkecil hati, dan konsisten dalam melakukan upaya perbaikan berulang.
- Kesiapan Administratif: Kepatuhan penuh terhadap ketentuan template, format penulisan, dan batasan jumlah kata yang telah ditetapkan secara ketat oleh lembaga pemberi dana.
- Kesiapan Substansi: Menjaga konsistensi alur argumentasi dari judul hingga daftar pustaka, memastikan signifikansi dan dampak luas dari permasalahan penelitian, serta merumuskan secara jelas gap dan unsur novelty penelitian.
- Kolaborasi dan Peta Jalan Riset: Membangun tim riset yang kompeten dan saling melengkapi, serta memiliki roadmap penelitian yang jelas sebagai bagian dari strategi riset jangka panjang.
Di akhir sesi, Dr. Nisa menyampaikan pesan penutup yang menjadi refleksi penting bagi seluruh peserta:
“Proposal yang didanai bukanlah proposal yang ditulis oleh peneliti paling brilian. Proposal yang didanai adalah proposal yang lahir dari peneliti yang memahami akar permasalahan, konsisten membangun roadmap penelitiannya, terbuka terhadap kritik, dan terus-menerus berupaya meningkatkan kualitas karyanya.” — Dr. Nisa



