Skip to content
 

PENTAS DUA MALAM TEATER ‘LUGU’ FAKULTAS PSIKOLOGI UMS

Dua naskah drama dipentaskan dalam dua malam berturut-turut oleh Kelompok Teater Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo, Jawa Tengah. Mengisahkan secara simbolik kegalauan manusia zaman modern dan jeritan hati seorang wanita dalam depresi psikopolitis……
***************************************************************************************************************************

PENTAS Teater Lugu, satu-satunyu kelompok pecinta seni drama di lingkungan Fakultas Psikologi UMS, Solo, ini digelar pada Rabu dan Kamis malam, 4-5 Juli 2012, mulai pukul 18.45 sampai 21.00 WIB. Bertempat di Teater Arena, kompleks Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), di bilangan Jebres, Solo, seluruh tim ‘cast’ (pemain) dan kru (non-pemain) dari awak Teater Lugu terlibat penuh dalam acara ini.

Riska Setyoning Mukti (Angkatan 2010), pimpinan Teater Lugu menjelaskan, acara ini sekaligus menjadi pengisi aktivitas di kala liburan seminggu penuh menjelang pelaksanaan ujian semester genap pada tahun akademik 2011/2012. Mementaskan dua naskah drama dalam dua malam secara beruntun adalah suatu proyek panggung teater yang tidak mudah, terkhusus bagi mahasiswa yang juga disibukkan oleh padatnya aktivitas perkuliahan. Namun, pengorganisasian suatu pentas seni akan menjadi aktivitas menyenangkan bila pelakunya mencintai apa yang dilakukannya.

Dipentaskan di tengah masa-masa liburan ‘Minggu Tenang’ sebelum ujian akhir semester, pentas dua malam ini menjadi sekaligus ajang ekspresi artistik selain sebagai ajang rekreatif. “Pentasnya dilakukan pada saat liburan panjang setelah perkuliahan, jadi kami bisa lebih maksimal dalam menampilkan pentas dua malam ini,” kata Riska.

Dua naskah drama yang ditampilkan dalam dua malan itu adalah: ’Orang-Orang yang Bergegas’ dan ’Balada Sumarah’. Naskah drama Orang-Orang yang Bergegas adalah karya dari Puthut EA, seorang sastrawan dan dramawan muda yang juga produktif menulis cerita pendek di media-media sastra. Dalam karya ini, ditampilkan potret sebuah kehidupan keluarga modern yang terpapar konflik ideologis, pertentangan antara hati nurani dan kebebasan ekstrem-liberal yang sejatinya membelenggu dan destruktif.

Dalam naskah ini, direfleksikan realitas sosial dalam sudut pandang sosio-psikologi bahwa telah muncul fenomena adanya pengaruh globalisasi dalam banyak lembaga keluarga atau rumah tangga di masyarakat Indonesia. Selain itu, terekam pula dampak modernisasi pada kehidupan keluarga Indonesia saat ini yang pada akhirnya memberikan dampak-dampak lanjutan pada pengurangan bobot afeksi dalam rumah tangga yang semestinya merawat rasa kasih sayang di antara sesama anggota keluarga.

“Amanat yang termuat dalam naskah drama ini adalah bahwa paham neoliberalisme yang sudah merasuk ke dalam kehidupan keluarga dan konflik-konflik psikis yang ada di dalamnya layak kita renungkan,” kata Windi Rahmawati (Angkatan 2010), salah satu aktivis Teater Lugu yang mengetuai divisi koreografi.

Sementara, dalam naskah Balada Sumarah, karya Tentrem Lestari, ditampilkan dalam corak monolog jeritan jiwa seorang perempuan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang tertuduh oleh aneka tuduhan politis karena kepolosannya. Namun, kematangan jiwa karena tekanan dan hempasan hidup yang keras, mengubahnya menjadi seorang wanita dengan pribadi penuh keberanian, kewibawaan, dan kejujuran.

“Saya tidak butuh pembela, saya tidak butuh penasihat hukum. Karena saya tidak mampu membayarnya. Saya juga tidak mampu dan tidak mau memberikan selipan uang pada siapapun untuk melicinkan pembebasan dari segala tuduhan.  Toh, semua sudah jelas! Semua tuduhan terhadap saya, benar adanya. Segala ancaman hukum, vonis mati, saya terima tanpa pembelaan, banding atau apalah namanya. Kematian adalah kelahiran yang kedua. Untuk apa berkelit kalau memang itu sudah winarah dalam hidup saya,” teriak Shinta Damayanti lantang (Angkatan 2011) dalam pentas malam kedua yang memainkan karakter sebagai Sumarah dalam lakon Balada Sumarah ini.

Kedua naskah drama ini dalam pentas dua malam ini disutradarai oleh A.W. Pratama (angkatan 2010) dan dibantu oleh asisten sutradara Muhammad Kholid (Angkatan 2010) dan Febri Hermansyah (angkatan 2010).

[psiums]

 

Kirim Balasan

*