Skip to content

Selamat Datang,

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta adalah lembaga pendidikan tingkat Strata 1 (satu) yang berdiri pada Tahun  1983/1984 dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan dan pengajaran dalam bidang Ilmu Psikologi dengan tingkat kompetensi unggul.

Sarjana handal yang telah lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Selengkapnya ...



VISI MISI,

Visi, misi, Program Studi (PS) Psikologi dirumuskan dengan merujuk kepada visi, misi universitas, melalui rapat kerja (raker) yang dihadiri oleh pimpinan beserta dosen dan tenaga pendukung kependidikan. Dalam merumuskan visi, misi, tujuan dan sasaran juga mempertimbangkan pengembangan IPTEKS dan berorientasi ke depan, dengan rumusan yang jelas dan spesifik..

Selengkapnya ...



PENGABDIAN: Mohammad Ngemron: “Saya Sudah Tidak Punya Apa-Apa Lagi”

Drs. H. Mohammad Ngemron, MS., perintis pembangunan Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo, Jawa Tengah, itu adalah gambaran sosok yang bersahaja, kharismatis, berwawasan luas dan lintas dimensi, inspiratif, orisinal, dan bijak. Itulah gambaran yang selalu melekat padanya, bahkan hingga memasuki masa pensiunnya. Kini ia berpamit untuk memasuki masa pensiunnya….

****************************************************************************************************************************

SEGENAP kolega dosen, staf, karyawan di Fakultas Psikologi, dan para teman dan sahabat, pada hari Sabtu, 5 Mei 2012, di sebuah rumah makan di kawasan Karangasem, Solo, membuat acara khusus bagi dosen senior ini. Hari itu menjadi hari penuh kenangan dan peringatan yang penting: ia di antar para sahabat dan orang-orang yang mencintainya untuk berpamit pensiun. Pak Ngemron, panggilan akrabnya, di awal Mei 2012 ini, telah menggenapkan masa pengabdian dan dedikasinya bagi UMS dan Persyarikatan Muhammadiyah selama tak kurang 40 tahun.

“Pak Ngemron kini sudah pensiun, tapi beliau tetap masih akan aktif di dunia akademis dengan terus mengajar,” tutur MB. Sudinadji, salah seorang dosen di Fakultas Psikologi menanggapi kerisauan seorang mahasiswa atas pensiunnya dosen senior itu.

Sejak kurang lebih 40 tahun lalu, ketika ia masih selaku dosen muda, Drs. Mohammad Ngemron sudah memberikan pengabdiannya yang amat bernilai bagi Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan terlebih khusus lagi bagi Fakultas Psikologi.

Sosok yang dikenal tegas dalam mempertahankan prinsip-prinsipnya ini adalah sosok penting dalam masa-masa awal perintisan dan pembentukan Fakultas Psikologi di lingkungan UMS, pada awal tahun 1980-an. Sebagai psikolog dan akademisi muda yang enerjik di era itu, sosoknya menjadi inspirasi bagi pembentukan institusi lembaga pendidikan psikologi dan disiplin psikologi itu sendiri.

Pada tahun 1992 hingga 1998, ia telah banyak memberikan sumbangsih dan kontribusi berarti bagi pengembangan institusi selaku menjabat sebagai dekan di Fakultas Psikologi UMS.

Berlangsung dalam atmosfer perhelatan yang semarak, khidmat, penuh kesan dan kenangan, segenap kolega staf pengajar, karyawan, rekan, dan sahabat yang berkumpul untuk mengantarnya memasuki masa pensiunnya itu mempersembahkan beraneka tanda mata sebagai kenang-kenangan kepadanya. Aneka hadiah, bingkisan, dan tanda mata dari para sahabat dan kolega menghujani pria berkacamata minus dua ini.

Para sahabat dan kolega hadir tidak sekedar memberikan aneka tanda mata. Ada beribu-ribu kesan dan kenangan tak terlupakan terbangun selama berinteraksi dengan Pak Ngemron. Semua  kenangan itu disampaikan dengan polos dan apa adanya yang membangkitkan memori di masa lalu ketika membangun institusi. Ada kenangan penuh senyum, canda, tawa, kelucuan, keharuan, dan juga sedih.

Namun, semua sahabat bersepakat bahwa sosok pria suami dari Dra. Misriyati Marmini ini adalah sososk yang amat tinggi dalam menjunjung etos kejujuran dan menjaga integritas.

“Kita bisa belajar dari Pak Ngemron tentang kejujuran. Dalam kesempatan ini, saya sangat berharap kiranya kita semua bia menanamkan pada diri kita masing-masing tentang makna kejujuran. Bahwa apa yang bukan hak kita, janganlah itu kita ambil. Saya sangat terkesan dengan kata-kata beliau yang tidak akan pernah bisa saya lupakan: Saya tidak akan ambil sesuatu yang bukan hak saya, karena saya takut di belakangnya kalau di-elongi (dikurangi, Jawa) yang lebih banyak lagi’,” tutur salah seorang dosen, Juliani Prasetyaningrum, mengenang pesan bijak yang ia peroleh dari pergaulan bersama dengan Pak Ngemron di depan para hadirin.

Kedalaman Makna  

Meski kini memasuki masa pensiun dan telah mengundurkan diri dari dunia akademis, Pak Ngemron tidak akan berhenti dari aktivitas mentransformasi mahasiswa-mahasiswanya dengan kuliah-kuliahnya. Pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan, serta kematangannya dalam hidup masih akan selalu dibutuhkan oleh mahasiswa dan tetap akan bisa diserap oleh para mahasiswa meski dengan frekuensi yang tidak setinggi ketika masih aktif mengajar.

Sebagai dosen senior dan perintis, beliau tdiak akan bisa terpisahkan dari psikologi dan institusi Fakultas Psikologi UMS, tempat ia telah meninggalkan jejak-jejak panjangnya.

“Sekarang saya serahkan semua kepada yang muda-muda. Saya kini sudah tidak punya apa-apa lagi,” tutur Pak Ngemron di depan para hadirin dengan dengan penuh kerendahhatian menandai masa pensiunnya.

Terkait dengan pernyataan Pak Ngemron yang lahir di Blora, 7 Juli 1942 ini, seorang dosen lain, Ahmad, menuturkan, justru pada kata-kata singkat Pak Ngemron itulah termaktub kedalaman makna yang tersembunyi. Ayah dari Wahid Husni Utomo, S.Pd. dan Muhammad Isnain Wiyasatama, ST. ini dinilainya sedang menyatakan sebuah pesan yang mengandung makan yang mendalam.

“Kata-kata ‘sudah tidak punya apa-apa lagi’ itu sangat mendalam maknanya. Kita bisa merenungkan maknanya pasti lebih mendalam dari yang terucap,” tuturnya.

Sosok Mohammad Ngemron dengan segala pemikiran dan kiprahnya, dalam ranah akademis dan sosial, memang tak mudah untuk dipahami dengan sepintas lalu. Dari sisi luar, daya tariknya sudah muncul dengan gaya bicaranya yang nyaring dan blak-blakan. Namun pada sisi-sisi lain di dalam sanubarinya yang jauh lebih mendalam tersimpan enigma tersendiri.

“Sepintas ia menarik, namun bila dipandang dengan lebih lama, ternyata yang lebih menarik justru terletak jauh bawah permukaan. Di dalam diri Pak Ngemron ada berlapis-lapis dimensi dengan kualitas yang telah teruji oleh pengalaman hidup dan kematangan,” tutur Taufik Al-Makmun, akademisi lainnya tentang sosoknya.

Setahun yang lalu, pada 2011, dalam perayaan Milad atau Dies Natalis Fakultas Psikologi UMS ke-28, Mohammad Ngemron memperoleh penghargaan dari Fakultas Psikologi UMS untuk semua dedikasi, pengabdian, dan peran sentralnya dalam mengembangkan ilmu-ilmu psikologi. Kini ‘warisannya’ yang telah ia rintis sudah dan senantiasa semakin berkembang pesat sebagai lembaga layanan pendidikan tinggi psikologi yang diperhitungkan di tanah air.

[psiums]

PELATIHAN: “Deteksi dan Intervensi Hambatan Belajar pada Siswa Sekolah Dasar”

Sebuah pelatihan yang mengambil topik di seputar proses perkembangan anak dan proses pembelajarannya diselenggarakan di Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 12 Mei 2012. Mengemuka dalam pelatihan ini, menjadi orang tua dari seorang anak yang dalam tahap pembelajaran, adalah suatu yang amat kompleks….

*****************************************************************************************************************************

DALAM pelatihan yang diselenggarakan selama sehari dan bertempat di ruang Audio Visual, Fakultas Psikologi UMS, Kampus II, Pabelan, ini hadir selaku pemateri tunggal adalah Dr. MG Adiyanti, MS.Psi., dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Tema yang diangkat dan dibahas adalah tentang ‘Deteksi dan Intervensi Hambatan Belajar pada Siswa SD’.

Menurut Dr. Adiyanti, tantangan dalam mengelola keluarga dan anak di masa sekarang ini adalah suatu yang bersifat kompleks. Pasangan yang membangun keluarga atau rumah tangga dan akhirnya menjadi orang tua dari anak-anaknya tak jarang ditemui hanya memiliki bekal yang jauh dari memadai untuk menjalankan fungsi sebagai orang tua bagi anaknya. Orang tua banyak tidak memiliki kesiapan yang cukup dalam menghadapi masalah-maslah yang muncul dalam rumah tangga.

Persoalan di dalam rumah tangga itu, salah satunya adalah yang terkait dengan pendidikan anak. Padahal, orang tua semestinya secara alamiah dituntut untuk memainkan multi-peran (multi-tasking). Beragam tugas itu adalah sebagai pendidik (educator), guru (teacher), teman, atau sahabat, selain sebagai orang tua yang bertugas utama mengasuh. Melihat fenomena ini, tak jarang para remaja, calon pasangan pengantin, bahkan orang tua, memiliki sebutan sebagai ‘the most-unprepared educator’ atau ‘pendidik yang paling tidak dipersiapkan secara matang’.

“Keadaan yang demikian memberikan kemungkinan pada terjadinya apa yang sebut sebagai dysfunctional family,” tuturnya.

Munculnya gejala dysfunctional family (keluarga yang tidak berfungsi), dicetuskan oleh berbagai macam penyebab, dari kekurangan wawasan dan pengetahuan terkait dasar-dasar membangun keluarga dari pelakunya hingga persoalan tekanan ekonomi.

Namun dari sisi psikologis, cara-cara (attitude) dalam menyikapi persoalan dalam rumah tangga atau keluarga juga merupakan pemicu dalam membentuk disfunctional family. Doktor dengan spesilisasi bidang Psikologi Pendidikan ini memberikan contoh tentang penyikapan terhadap kehadiran anak yang tak diharapkan dalam suatu keluarga karena ketidaksempurnaan fisiknya.

“Sikap orang tua tak jarang salah. Semisal dalam menghadapi kelahiran anak yang cacat, tak jarang mereka menyalahkan Tuhan. Mereka protes pada Tuhan. Mereka meratapi mengapa mereka harus menerima kejadian itu,” kata Dr. Adiyanti yang juga Ketua Program Magister Profesi Psikologi, UGM, ini.

Namun, dalam pandangan Dr. Adiyanti, untuk menangani aneka masalah sejenis dalam lingkup keluarga disfungsional, masyarakat dunia timur (eastern world) tidak seperti masyarakat barat. Dunia timur memiliki kearifan spesifik yang tidak dimiliki dalam masyarakat dunia barat (western world). Demikian pula dalam ranah ilmu psikologi untuk menanggulangi masalah ini.

Psikologi di dunia timur memiliki kearifan dalam memandang masalah keluarga seperti ini dengan konsep yang berbasis pada ‘hati’ dan ‘keruhanian’. Menurutnya, masyarakat di dunia timur selalu memiliki mekanisme khusus dalam memandang dan menganalisa suatu masalah psikis dalam lembaga keluarga, seperti adanya konsep spiritualitas.

“Di dunia timur, tempat masyarakat kita, masih ada konsep kebahagiaan (happiness) atau spiritualitas. Ini tidak ditemui dalam ilmu psikologi yang dikembangkan oleh londo-londo itu,” terangnya menyebut bahwa ilmu-ilmu psikologi memang berasal-muasal dari para londo-londo atau ilmuwan dan teoritisi dari dunia barat.

Dalam pelatihan yang ditujukan bagi para staf pengajar di Fakultas Psikologi, UMS ini, Dr. Adiyanti mempresentasikan tentang jenis kelainan yang sering ditemui pada anak, yakni Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Bersama dengan para peserta, dalam suasana yang hidup dan cair, semua sub-topik dan segala seluk-beluk di seputar ADHD dibahas dengan lebih lanjut hingga terperinci sampai acara usai di sore hari.

[psiums]