Drs. H. Mohammad Ngemron, MS., perintis pembangunan Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Solo, Jawa Tengah, itu adalah gambaran sosok yang bersahaja, kharismatis, berwawasan luas dan lintas dimensi, inspiratif, orisinal, dan bijak. Itulah gambaran yang selalu melekat padanya, bahkan hingga memasuki masa pensiunnya. Kini ia berpamit untuk memasuki masa pensiunnya….
****************************************************************************************************************************
SEGENAP kolega dosen, staf, karyawan di Fakultas Psikologi, dan para teman dan sahabat, pada hari Sabtu, 5 Mei 2012, di sebuah rumah makan di kawasan Karangasem, Solo, membuat acara khusus bagi dosen senior ini. Hari itu menjadi hari penuh kenangan dan peringatan yang penting: ia di antar para sahabat dan orang-orang yang mencintainya untuk berpamit pensiun. Pak Ngemron, panggilan akrabnya, di awal Mei 2012 ini, telah menggenapkan masa pengabdian dan dedikasinya bagi UMS dan Persyarikatan Muhammadiyah selama tak kurang 40 tahun.
“Pak Ngemron kini sudah pensiun, tapi beliau tetap masih akan aktif di dunia akademis dengan terus mengajar,” tutur MB. Sudinadji, salah seorang dosen di Fakultas Psikologi menanggapi kerisauan seorang mahasiswa atas pensiunnya dosen senior itu.
Sejak kurang lebih 40 tahun lalu, ketika ia masih selaku dosen muda, Drs. Mohammad Ngemron sudah memberikan pengabdiannya yang amat bernilai bagi Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan terlebih khusus lagi bagi Fakultas Psikologi.
Sosok yang dikenal tegas dalam mempertahankan prinsip-prinsipnya ini adalah sosok penting dalam masa-masa awal perintisan dan pembentukan Fakultas Psikologi di lingkungan UMS, pada awal tahun 1980-an. Sebagai psikolog dan akademisi muda yang enerjik di era itu, sosoknya menjadi inspirasi bagi pembentukan institusi lembaga pendidikan psikologi dan disiplin psikologi itu sendiri.
Pada tahun 1992 hingga 1998, ia telah banyak memberikan sumbangsih dan kontribusi berarti bagi pengembangan institusi selaku menjabat sebagai dekan di Fakultas Psikologi UMS.
Berlangsung dalam atmosfer perhelatan yang semarak, khidmat, penuh kesan dan kenangan, segenap kolega staf pengajar, karyawan, rekan, dan sahabat yang berkumpul untuk mengantarnya memasuki masa pensiunnya itu mempersembahkan beraneka tanda mata sebagai kenang-kenangan kepadanya. Aneka hadiah, bingkisan, dan tanda mata dari para sahabat dan kolega menghujani pria berkacamata minus dua ini.
Para sahabat dan kolega hadir tidak sekedar memberikan aneka tanda mata. Ada beribu-ribu kesan dan kenangan tak terlupakan terbangun selama berinteraksi dengan Pak Ngemron. Semua kenangan itu disampaikan dengan polos dan apa adanya yang membangkitkan memori di masa lalu ketika membangun institusi. Ada kenangan penuh senyum, canda, tawa, kelucuan, keharuan, dan juga sedih.
Namun, semua sahabat bersepakat bahwa sosok pria suami dari Dra. Misriyati Marmini ini adalah sososk yang amat tinggi dalam menjunjung etos kejujuran dan menjaga integritas.
“Kita bisa belajar dari Pak Ngemron tentang kejujuran. Dalam kesempatan ini, saya sangat berharap kiranya kita semua bia menanamkan pada diri kita masing-masing tentang makna kejujuran. Bahwa apa yang bukan hak kita, janganlah itu kita ambil. Saya sangat terkesan dengan kata-kata beliau yang tidak akan pernah bisa saya lupakan: ‘Saya tidak akan ambil sesuatu yang bukan hak saya, karena saya takut di belakangnya kalau di-elongi (dikurangi, Jawa) yang lebih banyak lagi’,” tutur salah seorang dosen, Juliani Prasetyaningrum, mengenang pesan bijak yang ia peroleh dari pergaulan bersama dengan Pak Ngemron di depan para hadirin.
Kedalaman Makna
Meski kini memasuki masa pensiun dan telah mengundurkan diri dari dunia akademis, Pak Ngemron tidak akan berhenti dari aktivitas mentransformasi mahasiswa-mahasiswanya dengan kuliah-kuliahnya. Pengetahuan, wawasan, kebijaksanaan, serta kematangannya dalam hidup masih akan selalu dibutuhkan oleh mahasiswa dan tetap akan bisa diserap oleh para mahasiswa meski dengan frekuensi yang tidak setinggi ketika masih aktif mengajar.
Sebagai dosen senior dan perintis, beliau tdiak akan bisa terpisahkan dari psikologi dan institusi Fakultas Psikologi UMS, tempat ia telah meninggalkan jejak-jejak panjangnya.
“Sekarang saya serahkan semua kepada yang muda-muda. Saya kini sudah tidak punya apa-apa lagi,” tutur Pak Ngemron di depan para hadirin dengan dengan penuh kerendahhatian menandai masa pensiunnya.
Terkait dengan pernyataan Pak Ngemron yang lahir di Blora, 7 Juli 1942 ini, seorang dosen lain, Ahmad, menuturkan, justru pada kata-kata singkat Pak Ngemron itulah termaktub kedalaman makna yang tersembunyi. Ayah dari Wahid Husni Utomo, S.Pd. dan Muhammad Isnain Wiyasatama, ST. ini dinilainya sedang menyatakan sebuah pesan yang mengandung makan yang mendalam.
“Kata-kata ‘sudah tidak punya apa-apa lagi’ itu sangat mendalam maknanya. Kita bisa merenungkan maknanya pasti lebih mendalam dari yang terucap,” tuturnya.
Sosok Mohammad Ngemron dengan segala pemikiran dan kiprahnya, dalam ranah akademis dan sosial, memang tak mudah untuk dipahami dengan sepintas lalu. Dari sisi luar, daya tariknya sudah muncul dengan gaya bicaranya yang nyaring dan blak-blakan. Namun pada sisi-sisi lain di dalam sanubarinya yang jauh lebih mendalam tersimpan enigma tersendiri.
“Sepintas ia menarik, namun bila dipandang dengan lebih lama, ternyata yang lebih menarik justru terletak jauh bawah permukaan. Di dalam diri Pak Ngemron ada berlapis-lapis dimensi dengan kualitas yang telah teruji oleh pengalaman hidup dan kematangan,” tutur Taufik Al-Makmun, akademisi lainnya tentang sosoknya.
Setahun yang lalu, pada 2011, dalam perayaan Milad atau Dies Natalis Fakultas Psikologi UMS ke-28, Mohammad Ngemron memperoleh penghargaan dari Fakultas Psikologi UMS untuk semua dedikasi, pengabdian, dan peran sentralnya dalam mengembangkan ilmu-ilmu psikologi. Kini ‘warisannya’ yang telah ia rintis sudah dan senantiasa semakin berkembang pesat sebagai lembaga layanan pendidikan tinggi psikologi yang diperhitungkan di tanah air.
[psiums]






